Bentang alam bumi Aceh masih menyimpan misteri untuk dijelajahi. Bagi Anda para petualang, cobalah mendaki ke puncak Gunung Burni Telong di Kab Bener Meriah di Aceh. Nikmati bunga edelweiss dan alam liar di sana.

Saya bersama sebelas teman mahasiswa lainnya dari ‘Mafia Civil 08’ Universitas Malikussaleh berjalan di kaki gunung Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, berusaha menembus belantara menuju puncak gunung tersebut. Di antara hamparan pohon kopi di kaki gunung itu, nampak sejumlah warga dengan penutup kepala yang khas dan keranjang. Ya, mereka sedang memanen kopi. Melihat ini, jiwa saya terasa damai. Apalagi dihiasi canda tawa gadis-gadis kecil di antara jejeran pohon kopi yang sedang berlarian membuat saya mengenang masa kecil.

Tak lama kemudian sampailah di sebuah perbatasan yang disebut Pinto Rimba. Pinto Rimba ini menurut warga setempat merupakan pertanda batasan utama mulai memasuki belantara merapi Burni Telong. Kami yang tadinya sedang berjalan berjejeran seperti semut, berhenti dan berkumpul sejenak untuk berdo’a guna memohon keselamatan dari Allah dalam pendakian ini.

Berbagai suara hewan liar pun mulai mulai terdengar tatkala kami melangkah meninggalkan Pinto Rimba tadi. Pepohonan besar, semak-semak belukar terlihat terbungkus oleh kabut. Perasaan takut bercampur letih menghiasi tatapanku ke setiap sudut-sudut hutan merapi ini. Acap kali saya teringat akan suara-suara hewan liar tak ubahnya seperti di hutan Vietnam dalam film Rambo.

Di shelter ini terlihat sepenggal tulisan yang diselipkan di salah-satu pohon berisikan imbauan ‘Jangan buang sampah sembarangan’ yang dibuat oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Malikussaleh. Saya bersama beberapa teman beristirahat sejenak. Sedangkan beberapa lainnya menemani salah seorang teman, yakni Pak Wa menuju mata air yang tak jauh dari shelter ini.

Tanjakan kian menantang, kawan-kawan memanfaatkan ranting kayu sebagai alat bantu mendaki. Kami melewati medan yang makin ekstrem. Batang-batang tumbuhan berduri menghadang kami. Ada pula hewan sejenis serangga, entah apa namanya. Mereka seperti  terganggu dengan kehadiran kami, dikarenakan sarangnya tepat di bawah jalan setapak yang kami lewati. Setiap pijakan kami menggetarkan sarangnya, mungkin itu yang membuat hewan-hewan itu terganggu.

Kami yang kurang paham dengan alam liar memilih untuk diam. Beberapa saat setelah itu hewan itu mulai tenang. Sebagian masih di luar, namun sebagian lagi masuk ke sarangnya. Kami melanjutkan lagi perjalanan. Di dua shelter berikutnya kami hanya beristirahat saja sejenak dan melanjutkan pendakian.

Ketika sampai di Shelter keempat, hawa dingin kian menyengat. Hari sudah mulai sore, suara-suara hewan yang tak pernah saya dengar sebelumnya terasa semakin bising seperti menyambut kedatangan kami. Di shelter keempat ini, lahannya lebih lapang daripada shelter-shelter sebelumnya. Terlihat tempat ini memang kerap kali sudah disinggahi para traveller.

Terdapat bekas-bekas perkemahan dan beberapa jebakan ayam hutan di sekitarnya. Kami  memilih untuk beristirahat dan minum kopi. Memanaskan air dengan menggunakan bahan bakar seadanya, seperti kayu kering yang kami ambil di sekitar tempat itu. Kami juga mengumpulkan kayu kering untuk persediaan di puncak nanti.

Kami pun melanjutkan pendakian. Mulai menjejaki bebatuan merapi tanpa ada hutan hutan belantara lagi, yang ada hanya tumbuhan setinggi pinggang orang dewasa. Jarak pandang pun terasa lebih jauh dari sebelumnya. Kami terus melakukan pendakian. Kami sempat terpisah, namun tak berselang jauh disebabkan beberapa teman beristirahat sejenak karena capek.

Sebelumnya, kami berharap bisa menikmati matahari terbenam tatkala sampai di puncak. Namun itu tak terkejar. Kami tiba di sebuah gua yang tak jauh lagi dari puncak Burni sesaat usai matahari terbenam. Diperkirakan kami menempuh lima jam pendakian mulai dari kaki gunung tadi.

Saya melihat di bagian luar gua yang tak dalam itu sudah dipenuhi berbagai macam coretan. Gua ini bukanlah seperti kebanyakan gua lainnya. Gua ini hanya batu yang bersandar di atas bebatuan besar lainnya, sehingga memiliki sedikit celah di bawahnya, di celah itulah kami masuk. Kedalaman gua ini sekira delapan meter.

Kami mulai memasang tenda. Tak lama kemudian, hujan disertai angin kencang tiba. Kami kalang kabut bercampur panik. Betapa tidak, beberapa dari kami akan kehujanan mengingat kapasitas gua yang tak mampu menampung kami semua dan bekal-bekal kami juga. Saya pun memastikan api yang telah dihidupkan tadi tidak mati.

Namun, hujan hanya sebentar, kami kembali tenang dan memastikan perkemahan kami telah siap. Sesekali saya melihat ke bawah. Seakan saling kejar, satu per satu lampu menyala di Kota Bener Meriah bisa dinikmati dari atas gua ini. Betapa indahnya.

Keesokan harinya, sekira pukul 05.30 WIB, kami berangkat menuju puncak, sekitar 200 meter lagi. Harapan kami saat itu bisa menikmati matahari terbit dari ketinggian 2.600 mdpl. Kami meninggalkan semua barang-barang kami di gua itu.

Begitu mengesankan saat kami mencapai puncak. Kami merasa seperti berada di atas awan. Terdapat sebuah bendera Merah Putih tepat di tengah tengah puncak yang katanya ditancapkan oleh TNI AU dan beberapa bendera para pendaki sebelumnya yang sudah hancur karena dipengaruhi cuaca.

Hari kian terang, lampu-lampu di kota Bener Meriah pun mati satu persatu. Garis-garis jingga mulai nampak di sebelah timur pertanda sunrise akan muncul. Kami bercanda ria seadanya saja sambil berfoto bersama. Padahal saya mulai takut ketinggian dan angin yang lumayan kencang.

Apalagi sebelum kami berangkat mendaki gunung ini sudah diperingatkan oleh kawan-kawan yang sebelumnya pernah mendaki, “Hati-hati, gunung itu sudah pernah longsor beberapa waktu lalu akibat gempa”.

Meski wisata ekstrem seperti ini menguras waktu dan tenaga yang banyak, tapi kami merasa puas oleh berbagi panorama alam dari ketinggian 2.600 mdpl. Sungguh mengesankan berada di atas awan. Sekitar satu jam lebih kami di puncak kami sepakat turun. Uniknya diantara beberapa dari kami ada yang takut ketinggian, hingga memilih untuk merayap ketika turun gunung ini.

Setelah sarapan kami berkemas untuk pulang. Di tengah perjalanan, kami pun memotret tanaman khas gunung karena ketika mendaki kemarin hari sudah gelap. Tanaman itu tentu saja bunga Edelweiss.

Sekira tiga ratus meter lagi mencapai kaki gunung, hape saya yang hilang ketika pendakian, ditemukan oleh temanku si Raman Cingklot. Saya menghembuskan nafas lega dankembali bisa menghubungi keluarga dan orang-orang terdekat untuk mengabarkan telah turun dari puncak Gunung Burni Telong. Sungguh pengalaman yang luar biasa!

Mukhlis Azmi / DetikTravel

Advertisements