Peringatan kelahiran pemimpin besar Nabi Muhammad SAW pada setiap tahunnya yang ditandai dengan Maulid dirayakan dengan cara tersendiri oleh segenap umat muslim di seluruh dunia atau susuai dengan budaya masing-masing tempat, tak terkecuali umat muslim di Indonesia.

Di Propinsi Aceh tampil beda, dimana sekitar sebulan menjelang perayaan Maulid atau yang akrab disebut masyarakat Aceh dengan Molod, meriahnya sudah terasa. Suara-suara lantunan shalawat atau syair tentang sejarah Baginda Rasulullah SAW pun bergema dari meunasah (surau), balai-balai pengajian atau pesantren-pesantren, siang maupun malam. Ini merupakan suara pelatihan zikir Maulid atau yang populer disebut masyarakat Aceh dengan “Dike”.

Salah-satu tempat pelatihan Dike di Kabupaten Aceh Utara, yakni di Desa Alue Barueh, Kec. Seunuddon, Rabu 10 Desember 2014 — di atas sebuah balai pengajian berkonstruksi kayu — para peserta Dike yang berjumlah tiga puluh orang duduk berbaris dengan gerakan badan dan kepala mengikuti irama shalawat yang dilantunkan empat orang Syeh (pemandu/pelantun shalawat) yang duduk di depan mereka.

Adapun peserta Dike tak hanya memperlihatkan seni gerakan badan dan kepala. Namun, adakalanya mereka juga ikut melantunkan shalawat beriringan dengan Syeh. Sehingga paduan suara yang bergema kian terasa meriah. Kebanyakan  dari para peserta merupakan anak laki-laki di bawah umur. Dengan wajah yang masih imut dan gesit, mereka tampak serius berlatih.

“Ini merupakan latihan rutin yang kita gelar setiap menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Untuk tampil maksimal natinya pada acara Maulid, kita menggelar latihan Dike siang dan malam atau pada waktu tertentu,” kata Syarifuddin (23), salah seorang Syeh serta pelatih Dike balai pengajian Ali Monjrang di sela latihan Dike.

“Peserta Dike merupakan anak laki-laki berusia delapan hingga lima belas tahun, meski ada juga diperagakan oleh laki-laki dewasa,” tambahnya.

Dikatakan, bila tampil bagus dan mengesankan, pihaknya akan dapat banyak order untuk tampil pada hari atau malam perayaan Maulid, di antaranya di meunasah-meunasah (surau), rumah warga atau di tempat-tempat lain di bulan-bulan perayaan Maulid, yakni bulan Rabbiul Awal (Maulid awal), Rabbiul Akhir (Maulid  pertengahan) dan Jum’adil Akhir (Maulid akhir).

Lebih jelas ia mengatakan, Dike merupakan perpaduan antara seni menggerakkan badan dan  kepala atau yang biasa disebut masyarakat Aceh dengan istilah Lingiek dalam posisi duduk dan dihiasi berbagai shalawat atau syair tentang kisah Nabi Muhammad SAW dengan berbagai variasi irama. Biasanya Dike tampil sekitar tiga jam sebelum Khanduri Molod (Kenduri Maulid).

Pahala yang besar

Sementara itu beberapa pemuka agama yang di kawasan setempat mengatakan, merayakan Molod Pang Ulee Alam (Penghulu Alam) Nabi Muhammad SAW dengan bershalawat dan menggelar Khanduri Molod diiringi keikhlasan, bukan bermaksud berhura-hura atau pamer akan mendapatkan pahala yang besar.

“Jangankan menggelar Khanduri, memakai baju yang bersih saja atau layaknya seorang muslim dan pergi ke tempat Khanduri, ya…. misalnya saja ke meunasah sudah mendapatkan pahala. Apalagi menggelar Khanduri,” ungkap Ustadz Rasyidin, salah seorang pemuka agama.

Ia juga menyebutkan, orang-orang yang merayakan Maulid dengan shalawat dan Khanduri di akhirat nanti akan mendapatkan Syafa’at dari Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, seburuk-buruk manusia adalah manusia yang tidak pernah bershalawat atau mengatakan Sallallahu ‘Alaihi Wassallam (SAW) saat mendengar tentang Nabi Muhammad SAW.

Masih di kawasan setempat, hal senada juga diutarakan Ustadz Marsuni bahwa mereka yang membesarkan hari kelahiran Rasullullah SAW akan mendapatkan pahala sama seperti kaum muslimin yang berjihad di jalan Allah.

Oleh sebab itu, bagi masyarakat Aceh, menggelar Khanduri Molod di meunasah atau di rumah masing-masing merupakan keharusan. Tak heran bila masyarakat di Aceh yang konon kawasan pertama agama Islam masuk ke Indonesia tersebut sangat antusias menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, mulai dari menggelar Dike sampai Khanduri Molod dan  mengundang seluruh warga sekampung atau warga kampung sekitar.

Tak tanggung-tanggung, sekira sehari sebelum hari perayaan Molod, berbagai macam hewan ternak disembelih untuk Khanduri Molod, seperti sapi, kambing, domba, itik atau ayam. Dan pastinya tidak lengkap bila tanpa ketan yang dimasak bercampur kelapa parut manis dan berbalut daun pisang atau yang disebut masyarakat Aceh dengan Buleukat.

Advertisements