Sekira setahun terakhir demam batu Giok Aceh guna dijadikan bagian dari cincin kian terasa. Merambah ke setiap pelosok, baik di perkotaan maupun di perkampungan di Aceh, bahkan ke beberapa wilayah lain di pulau Sumatera sampai ke pulau Jawa.

Tak hanya laki-laki yang sudah lazim menggunakan cincin bermata batu mulia ini, tapi demam Giok  saat ini juga mampu menghipnotis kaum hawa, hingga mereka pun ikut tertarik dengan batu Giok.

Saat ini pun tak jarang di setiap desa bisa ditemui tukang asah batu cincin. Apalagi di kota khususnya di Aceh, setiap sudut, setiap gang, terlihat sejumlah warga berkerumun untuk membuatkan cincin giok atau sekedar melihat karena ketertarikannya dengan batu tersebut.

Dunia maya juga seakan tak mau kalah. Tak sedikit cincin Giok yang terdiri dari berbagai tipe tersebut terasa meriah, penuh warna warni diunggah ke media sosial seperti Facebook dan Twitter. Di sini dengan berbagai tujuan, promosi atau hanya sekedar mengunggah dikarenakan kebanggaannya memiliki cincin giok itu.

Khaidir (26), salah seorang kolektor Giok asal Kec. Lapang, Aceh Utara, Minggu 25 Januari 2015 mengatakan, semenjak demam Giok mewabah, dirinya tak sungkan lagi menggunakan lebih dari satu cincin yang memiliki diameter Giok mencapai 2 cm.

“Dulu kalau kita menggunakan cincin besar dan lebih dari satu di jari, maka orang yang melihatnya bisa berasumsi kita dukun. Namun saat ini tak lagi,” tandasnya.

Dikatakan, batu Giok Aceh yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Nagan Raya, Aceh Tengah dan Gayo Lues itu bukan semata dipakai sebagai penghias jari, namun juga memiliki khasiat, di antaranya untuk melancarkan peredaran darah.

Selain itu, sambungnya, batu tersebut juga memiliki jenis dan warna yang bervariasi, sehingga memiliki daya tarik bagi siapa saja yang melihatnya. “Alam Aceh kita kaya. Di antaranya ada Giok Solar, Giok Indocrase atau Giok Belimbing dan masih banyak lagi jenis Giok,” papar Khaidir.

“Harganya Giok yang siap dipasangkan dengan cincin bervariasi, mulai ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Kalau batu Giok yang belum diolah menjadi mata cincin, itu lain lagi harganya,” tambahnya.

Sementara untuk pengikat Giok di jari atau cincin, masih menurut Khaidir, biasanya digunakan logam jenis titanium yang harganya sekira Rp 100 ribu. Tidak tertutup kemungkinan juga ada yang memakai pengikat Giok jenis lainnya.

Di tinjau dari satu sisi, demam Giok Aceh memberikan dampak positif bagi masyarakat, dimana terjadi peningkatan ekonomi atau terciptanya lapangan kerja. Masyarakat bisa berburu batu Giok di pegunungan kemudian menjualnya, sementara sebagian masyarakat dapat menyediakan jasa pengasah batu untuk kemudian menjadikannya sebagai cincin.

Namun, di sisi lain demam Giok juga memberikan dampak negatif. Sebagian warga seperti kecanduan narkoba sampai lupa diri. Siang dan malam sibuk dengan batu Giok hingga meninggalkan kewajiban yang diperintahkan Allah seperti shalat, atau bagi yang sudah berkeluarga meninggalkan kewajibannya sebagai kepala keluarga.

Fakta yang terjadi akibat demam Giok menimbulkan berbagai spekulasi di tengah-tengah masyarakat. Berbagai komentar pun tercipta, di antaranya: “Sibuk dengan Giok, anak istri kelaparan di rumah”. Ada juga yang mengatakan: “Tak apalah mabuk Giok, asal jangan mabuk narkoba”.

Ustadz Marsuni, salah seorang tokoh agama setempat menuturkan, apabila demam Giok mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat berarti tak lepas dari cara Allah memberi rezeki kepada hambaNya. Namun, sambungnya, bila gara-gara demam Giok meninggalkan kewajiban sebagai muslim atau sebagai kepala keluarga, maka hukumnya haram. Apalagi sampai berkeyakinan yang tidak-tidak terhadap batu itu. Bisa saja menjadi syirik.

“Ya… intinya demam Giok sih boleh-boleh saja, asal jangan meninggalkan kewajiban,” tutupnya.

Seperti diketahui, batu Giok Aceh merupakan salah-satu batu tercantik yang sudah diakui dunia. Karenanya, sepantasnya masyarakat setempat mencintai dan mempertahankan batu Giok yang telah menjadi identitas masyarakat Aceh tersebut.

Mukhlis Azmi

Advertisements