Gemetar kelaparan, rasa takut dan dahaga sekira lima ratusan etnis Rohingya asal Myanmar dan Banglades disaksikan warga yang berada di kawasan perairan Blang Glumpang Kecamatan Seunuddon Aceh Utara, Minggu 10 Mei 2015 pagi, sesaat setelah boat Tongkang yang mereka tumpangi terdampar di kawasan itu.

Suku yang mayoritas muslim itu yang kebanyakan pria, puluhan di antaranya perempuan dan anak-anak sempat terpecah belah, berlarian kalang kabut dipenuhi rasa takut ditangkap petugas. Mereka lari ke pemukiman warga di Desa Matang Puntong dan Desa Meunasah Sagoe, tak jauh dari perairan Blang Glumpang. Bahkan terdapat pula di antara mereka yang lari sampai ke Kec. Baktiya dan Baktya Barat, kabupaten setempat.

“Mereka saat sampai di sini, berlarian karena takut ditangkap. Kami kasihan melihatnya. Nampaknya mereka haus dan kelaparan,” kata Fatimah, seorang warga Desa Matang Puntong. “Mereka pikir ini Malaysia,” tambahnya.

Warga Myanmar dan Banglades itu sedikit tenang karena diperlakukan secara kekeluargaan dan mengetahui bahwa mereka sedang berada di Aceh alias Indonesia. Tak seperti di negaranya, etnis rohingya didiskriminasi, tak jarang pula mereka dibantai olek pihak otoritas yang tak menginginkan keberadaan mereka. Lain halnya dengan imigran asal Bangladesh, mereka enyah dari kampung halamannya bukan karena konflik tapi karena kemiskinan dan ingin mengadu nasib ke negara lain.

Kepedulian dan rasa sosial yang tinggi warga di kedua desa tersebut telah menjalin kedekatan yang luar biasa dengan etnis rohingya. Betapa tidak, meski sehari mereka ditampung di kedua desa itu, warga seakan berlomba memberikan bantuan seperti pakaian, makanan ringan dan minuman. Sementara di Desa Matang Puntong, warga tampak sibuk menyiapkan peralatan dapur seperti kayu bakar dan wadah untuk memasak nasi dengan ukuran besar.

Wajah-wajah lesu etnis rohingya terpancar di sela-sela peristirahatan di Meunasah Desa Matang Puntong. Mereka tampak merenungi nasibnya. Beberapa di antara mereka juga ada yang sakit. Namun kedekatan dengan ratusan warga setempat dan ditambah warga desa lainnya yang ingin menyaksikan etnis tersebut mampu memancarkan sedikit senyuman di wajah mereka. Bahkan terdapat warga yang mengajak etnis Rohingya itu balot dan piep Rukok Oen (rokok tradisional) sambil bercerita bagaimana awal mulanya hingga mereka sampai di  sini.

Muhammad Junek (22), seorang dia antara etnis rohingya yang mampu berbahasa melayu kepada acehbaru.com mengisahkan, mereka berangkat dari Myanmar melalui tekong setelah membayar RM 500 (Ringgit Malaysia) per orang menggunakan boat Tongkang menuju Malaysia untuk mengadu nasib atau bekerja. Sekitar pukul delapan malam waktu setempat, saat akan sampai ke Malaysia mereka ditembak oleh mafia tekong lainnya. Setelah itu mereka ditinggalkan oleh tekong yang membawanya dengan kondisi boat kehabisan bahan bakar dan makanan seadanya. tekong itu lari menggunakan boat lainnya. Ia juga mengatakan, selama dua bulan mereka terombang ambing di lautan hingga terdampar ke Aceh. Dan saat sampai di Aceh, mereka sudah tiga hari tanpa makan.

“Orang agence agence (tekong) lah…. kita datang melalui agence, dia orang ambil duit, lepas tu orang kita oke mau masuk Malaysia malam ini, malam pukul 08.00 (waktu setempat), ada tembak tembak. Dia (tekong) tinggal kita, minyak-minyak apapun tak ada, dia orang naik boat, lari,” katanya.

Ia juga mengatakan, di Myanmar mereka juga didiskriminasi karena unsur etnis dan agama. Mereka terkadang dibantai oleh petugas otoritas Thailand dan Myanmar.

Setelah sehari mereka ditampung di Desa Meunasah Sagoe dan Matang Puntong, pada sore harinya, akhirnya mereka di bawa petugas kepolisian ke Mapolres Aceh Utara menggunakan beberapa dum truck. Sesaat sebelum keberangkatan etnis Rohingya ke Mapolres, rasa sosial dan kekeluargaan warga setempat masih saja terjalin. Beberapa warga membagi bagikan makanan ringan dan uang sealakadarnya. Bahkan tangisan warga pun tak terbendung meski hanya sehari mereka berada di tempat itu. Lambaian tangan warga mengiringi keberangkatan mereka.

Advertisements