Dipublikasikan di Bisnis Indonesia Writing Contest.

Merintis sebuah produk usaha yang maju hingga terkenal ke seluruh penjuru dunia memang tidaklah mudah, tentunya dibutuhkan kegigihan, kreatif, skill tingkat tinggi dan semangat pantang menyerah. Belum lagi pengusaan strategi pemasaran agar mampu menarik minat konsumen. Saat semua tidak berjalan sesuai rencana, maka tidak menutup kemungkinan sebuah usaha mengalami bangkrut. Sebaliknya, jika rintisan usaha tersebut maju hingga dikenal sampai ke luar negeri, maka tak ayal produksi usaha anak negeri menjadi kebanggaan bersama.

Di Desa Masjid Teupin Punti, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, 24 tahun lalu berdirilah sebuah produksi usaha peci Tgk Wasly. Peci-peci hasil produksi tersebut memiliki motif khas Aceh yang unik, seperti motif Rencong dan Pinto (Pintu) Aceh, sehingga tak heran kini usaha tersebut menjadi produk unggulan di Kabupaten  Aceh Utara dan sering tampil dalam even pameran. Tak hanya itu, peci-peci tersebut juga telah menjamur ke sejumlah daerah di Indonesia, bahkan sudah menembus beberapa belahan dunia, seperti Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Perjalanan Tgk Wasly (47) yang juga merupakan pemilik usaha tersebut dalam merintis produknya itu ternyata tersimpan sejarah yang menarik. Tgk Wasly mengisahkan, almarhum ayahnya, yakni Tgk Masri (1920-2008) ketika masa kecil tinggal bersama orang tuanya dengan membuka sebuah warung kopi di Kota Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Memasuki usia remaja, pada tahun 1942 ketika terjadi penjajahan Jepang di Aceh, Tgk Masri berangkat ke Labuhan Haji, Aceh Selatan untuk memperdalam ilmu pengetahuan Islam pada salah seorang ulama kharismatik Aceh, yakni Abuya Syekh Haji Muda Wali Alkhalidi. Suatu ketika, sambil belajar kitab di biliknya Tgk Masri melihat peci miliknya asal Timur Tengah yang model di atas peci itu dapat dilipat. Semenjak itulah Tgk Masri terinspirasi dan mendapatkan ide untuk membedah, mempelajari serta meniru bagaimana rancangannya dikarenakan menurut Tgk Masri meniru lebih baik daripada berdiam diri atau tidak berbuat apa-apa sama sekali.

“Usai ayah saya membuka satu persatu komposisi peci asal Timur Tengah itu, lahirlah inspirasi baru untuk mendesain kembali peci tersebut hingga dirinya memiliki keterampilan dalam mendesain peci itu,” ungkap Tgk Wasly.

Lebih rinci ia menuturkan, di saat ayahnya mendesain peci kala itu hanya bermodalkan kain beludru jas yang di jual di kaki lima. Sedangkan bahan-bahan lainnya bersal dari on kurusong (daun pisang kering), kulit kayu dan anyaman tikar pandan.

Ketika itu, lanjut Tgk Wasly, peci hasil buatan almarhum ayahnya tersebut diminati banyak orang,  sampai diteruskan pembuatannya hingga kembali ke kampung halaman, yakni Teupin Punti ini dan mewariskan kepada dirinya.

“Hingga saat ini pun peci ini banyak diminati, apalagi di negeri kita ini yang mayoritas beragama Islam dan Aceh sebagai daerah yang sarat dengan syari’at,” tandasnya.

Dibalik sukses Tgk Wasly menjadi pewaris karya almarhum ayahnya itu, ternyata dia juga melibatkan 50 karyawan yang harus memenuhi permintaan konsumen 5000 sampai 7000 peci per bulan dengan harga bervariasi, mulai Rp20 ribu – Rp50 ribu, tergantung motifnya. Saking banyaknya permintaan, Tgk Wasly juga mengaku tak pernah cukup memenuhi permintaan konsumen. Apalagi saat bulan ramadhan, permintaan meningkat hingga 150 persen.

Oleh sebab itu, Tgk Wasli meminta pemerintah agar bisa melancarkan dan meningkatkan kapasistas produksi usahanya itu, antara lain dirinya membutuhkan mesin penjahit berteknologi komputer. Sebab, alat penjahit yang digunanakan saat ini masih manual. “Kondisi ini sangat lamban sehingga produksi peci tak pernah cukup sesuai permintaan konsumen,” katanya.

Dari sepenggal kisah ini, usaha, kreatifitas dan ketekunan dari almarhum Tgk Masri sampai mewariskan karyanya kepada Tgk Wasly, mampu menjadi inspirasi dan motivasi bagi anak negeri. Sebab, hasilnya tak hanya mampu menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang, tapi bangsa ini juga ikut bangga karena karyanya itu memilik kualitas ekspor.

Untuk mendapat semua itu, pastinya tidak lepas dari usaha, pemikiran kreatif serta semangat pantang penyerah dari segala tantangan. Semoga dari kisah ini dapat melahirkan karya-karya anak negeri lainnya yang juga membanggakan.

Mukhlis Azmi

Advertisements