Kalau di Solok Sumatera Barat ada Membantai Kabau Nan Gadang, maka di Aceh ada Khanduri Blang yang merupakan sebuah tradisi sebelum turun ke sawah dan diiringi dengan do’a bersama.

Dalam Khanduri Blang yang umumnya digelar di Lampoh Jrat atau Tempat Pemakaman Umum (TPU), seperti yang terpantau di Desa Alue Barueh Kecamatan Seunuddon Aceh Utara, Senin 11 Januari 2016, masyarakat dari segala usia berkumpul untuk menyantap hidangan Kari Daging Kambing atau Sapi setelah dimasak di dalam sebuah Beulangong (Wajan) berukuran besar.

Namun demikian, sebelumnya masyarakat telah diimbau oleh Aparatur Desa untuk menyiapkan bekal berupa Nasi yang harus dibawa dari rumah masing-masing. Ada pula masyarakat disarankan melebihkan bekal Nasinya untuk dapat dikendurikan kepada orang lain.

Sementara sejumlah Tokoh Agama (Tengku Imum Syiek), Tokoh Adat Gampoeng seperti Tuha Peut dan Tuha Lapan dan para tamu undangan, duduk terpisah guna melakukan do’a bersama memohon kepada Allah SWT, agar nantinya Padi yang telah ditanam di Sawah diberi keselamatan atau terbebas dari segala Hama.

Ada keunikan tersendiri dalam kegiatan ini. Dimana masyarakat duduk dengan rapi, kemudian bekal Nasi yang tadi dibawa, dibuka di depannya masing-masing. Lalu seorang petugas Khanduri Blang (Kenduri) datang dengan menenteng wadah yang berisikan Kari Kambing.

Tidak tangung-tangung, dengan Aweuk Bruek (Centong Tradisional) yang terbuat dari Cangkang atau Batok Kelapa, petugas menaburkan Kari Kambing hingga ke atas Nasi yang telah dibawa masing-masing warga tadi. Masyarakat pun menyantap dengan lahap dengan wajah yang riang gembira.

Tak cukup sampai di situ, masyarakat juga diberikan lagi Kari Kambing untuk dibawa pulang, sekiranya di rumah mereka masing-masing ada yang tidak hadir dalam Khanduri Blang ini.

Belakangan juga diketahui, ada juru masak sekitar lima orang di kawasan itu yang memiliki keahlian khusus dalam meracik Bumbu dan memasak Kari yang diterjunkan dalam acara-acara besar seperti ini.

Sementara itu, Imum Gampong Alue Barueh Mansur di sela acara berlangsungnya Khanduri Blang, mengakatakan, sebelumnya pihaknya juga telah melakukan do’a bersama selama tiga malam berturut turut dan ditutup dengan Khanduri Blang. Sedangkan Khanduri Blang sendiri adalah Adat turun temurun warisan Nenek Moyang yang dilaksanakan sebelum turun ke Sawah agar Padi nantinya berkah dan terbebas dari Hama.

“Kami berdo’a tiga malam agar padi kita selamat dari hama atau penyakit tikus dan sebagainya. Itulah,” Katanya.

“Memang semenjak dahulu—semenjak nenek kita—sudah menjadi adat. Makannya sebelum turun ke sawah otomatis Khanduri dulu,” sambung Mansur.

Sementara disinggung mengapa pemilihan Khanduri Blang di lokasi Lampoh Jeurat, ia mengatakan, hal itu dilakukan karena pihaknya juga sekalian mendo’akan para Arwah di lokasi tersebut.

Mansur menambahkan, pihaknya juga menjadikan Khanduri Blang sebagai momen Kesatuan masyarakat dalam upaya pembangunan berbagai sektor di kawasan setempat yang manfaatnya dapat dirasakan bersama.

Dengan demikian, lanjutnya, tradisi Khanduri Blang terasa amatlah penting sehingga sudah semestinya dilestarikan agar tidak hilang terhapus masa.

Mukhlis Azmi / RRI.co.id

Advertisements