Dipublikasikan di Harian Waspada, Minggu 25 Oktober 2015.

Terkadang butuh kegalauan untuk menulis, agar benar-benar menjiwainya, hehe. Inilah cerpen yang saya tulis saat dirundung kegalauan. ‘Senja Kelam di Kuta Piadah’ merupakan realita yang saya padukan dengan fiksi.

Gemuruh ombak di pantai Kuta Piadah kian terasa. Perahu nelayan kian mendekati darat pertanda usai sudah menjelajahi isi laut. Burung-burung berterbangan seperti mengikuti arah matahari kemerahan yang mulai merebahkan diri.

Raman masih larut dalam kesendirian duduk beralaskan pasir. Kadang ia mencoret-coret pasir dengan ujung jari telunjuknya yang sesekali terhapus oleh ombak-ombak kecil. Kadang ia melempar benda-benda yang ia temukan di dekatnya ke laut. Ah, Raman membiarkan saja pakaian di sekujur tubuhnya basah oleh percikan air asin.

Setelah seminggu Nila memilih hidup bersama Karia, Raman masih sering begitu. Sendiri. Padahal Nila telah berjanji untuk menunggu sampai kuliah Raman selesai, mereka akan menikah. Namun kenyataannya Nila enyah dari kehidupan Raman dan memilih Karia anak Ampon Rani, saudagar kaya di Kampung Beurandeh. Entah gerangan apa hingga dirinya berbuat begitu.

Kian terkenang. Raman mengambil sebatang rokok di saku kiri celana jeans-nya dan ia nyalakan. Adakala Raman ingin membuang kenangannya dengan Nila beriringan dengan asap rokok yang dihembuskan ke arah laut, namun tetap tidak bisa. Bahkan Nila semakin hadir seperti mencabik-cabik hatinya. Tatapannya kosong. Raman terkenang saat manis dulu. Seakan tak terpisahkan. Begitu indah.

“Abang! Yang penting habisin kuliah dulu. Setelah itu abang dapat kerja, kita menikah. Enggak apa buat adek bila pun kita enggak buat acara pesta, yang penting kita menikah,” Raman kembali mengingat kata-kata Nila yang pernah diucapkan, entah setahun sebelumnya.

Nila lebih dulu menamatkan kuliahnya di jurusan Kebidanan di salah-satu perguruan tinggi di Kuta Raja setahun yang lalu. Sedangkan Raman masih kuliah di jurusan Teknik Sipil di Pasee. Entah kenapa Raman harus begitu lama duduk di bangku kuliah. Padahal ia sudah setengah dekade lebih bergelut dengan dunia akademisi itu. Ah, Raman berpikir tak perlulah menyalahkan siapa. Yang terpenting dirinya optimis akan menamatkan kuliah.

Sepulang kuliah pada sore hari, biasanya Raman dan Nila asik bermain di tanggul depan rumah Apa Baka. Berjalan di atas tanggul, melihat-lihat segerombolan sapi yang sedang digembala Syafi’i putra sulung Apa Baka. Bercerita tentang rencana mereka ketika setelah menikah nanti. Kadang Nila mengajaknya mengejar belalang-belalang yang molompat-lompat di ateueng blang (pembatas sawah) di balik tanggul itu, atau Raman mengajak Nila melempar batu tipis ke dalam air tanggul yang sedang mengalir, berharap sekali lempar dua ceburan terjadi. Sesekali mereka memekik riang gembira sambil menatap ke arah langit biru.

“Kalau kita sudah nikah nanti, penghasilan abang cukup, adek di rumah saja,” ucap Raman seraya melirik Nila.

Tangannya kembali melesatkan batu tipis yang ia kutip di tanggul itu ke dalam air. Nila tersenyum sumringah sembari memeluk badannya sendiri.

“Iya abang. Walaupun adek sudah lebih dulu sarjana dibandingkan abang, adek hanya ingin melayani abang saja dan merawat anak kita nanti. Haha….”

“Ayambeneerrrr,”

“Bebek, hahaha….”

“Hahahaha….,”

Mereka menghabiskan waktu berhaha hihi bersama sampai matahari mulai melukis jingga di ufuk barat tepat di atas bubung rumbia rumah Apa Baka.  Saat petani-petani kampung beurandeh pulang dari tambak dengan sepeda ontel yang sudah berkarat dihiasi jaring pukat di dalam jirigen di belakangnya, serta saat terdengar suara Ceupo Buleuen istri Apa Baka memagap itik-itiknya masuk ke dalam kandang.

Hal ini hampir mereka nikmati setiap hari. Tapi kenangan ini telah berubah menjadi kelam bagi Raman. Nila bagaikan menghempas tubuhnya ke dalam lumpur hidup. Kian Raman mencoba melawan untuk keluar, maka kian Raman terperosok ke dalamnya. Dirinya meninggalkan Raman tanpa alasan yang jelas.

Nelayan-nelayan di pantai Kuta Piadah mulai menarik perhunya ke darat. Raman membuang puntung rokok yang sudah terbakar merknya. Dia menyandarkan diri, menopang badannya dengan menggunakan kedua tangannya. Kadang Raman menghembuskan nafas panjang.

Pengajian di Mushalla Kampung Bantaian mulai terdengar. Raman tak jua kunjung melenyapkan perasaan kecewanya terhadap Nila. Raman mengira selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Hanya saja waktu itu Dia tak pulang ke rumah seperti biasanya. Selama nyaris seminggu Raman disibukkan dengan pembuatan laporan praktikum kuliah yang harus segera diselesaikan di Passe.  Jadi, Dia memutuskan untuk bermalam di rumah kontrakan kawannya di Lamlhok. Selama Raman di sana, mereka jarang komunikasi. Namun itu sudah terbiasa. Apalagi handphone jadul Raman batrenya sudah soak. Jadi Raman berpikir semua biasa-biasa saja, tanpa ada yang  harus dikhawatirkan hubungannya dengan Nila.

Sore itu Raman pulang melewati lorong menuju rumahnya. Dia berjumpa dengan Limah, yang tak lain adalah sahabat Nila. Saat itu Limah pulang dari Lampoh U, tak jauh dari rumah Raman dengan membawa seberkas kayu bakar di atas kepalanya dilapisi ija sawak (kain). Ia menceritakan, saat Raman tak pulang ke rumah beberapa hari yang lalu, Nila menikah dengan Karia anak Ampon Rani. Mendengar itu, Raman terkejut. Sejenak matanya menatap kosong ke arah Limah. Rasa kecewa yang mendalam terpancar di wajah Raman, namun dia berlagak seperti tak terjadi apa-apa dengan perasaannya di depan Limah. Raman dan Limah pun berlalu.

Seandainya saja Nila sedikit saja mengatakan tentang rencana pernikahannya dengan Karia mungkin Raman akan melepaskannya meski dia tak rela. Nila  bungkam. Raman tersakiti perasaan.

Ah, entah sampai kapan Raman bisa membuang perasaan kelabu ini ke tengah laut. Raman  memikul beban lara hati. Terkadang ia ingin seperti angin laut yang terbang kemana saja.

Hari hampir dijemput malam. Raman mulai bangun dari sandarannya. Bagian depan bajunya sudah basah. Raman tak peduli. Sedikit ia menyentak-nyentak sandal yang sudah dibalut pasir. Raman berjalan pulang melalui pesisir pantai itu. Sekitar hampir setengah kilometer lagi. Sambil ia menyeret langkahnya, bayang dan suara Nila seakan terus mengejar.

Matahari kian memerah. Memantulkan cahayanya ke permukaan air laut. Raman kembali larut tatkala menghadapkan tatapannya ke kanan, melihat sepasang burung di atas dahan pohon cemara sedang bercumbu. Menghayati kala masih berdua dengan Nila. Hati dan perasaannya benar-benar berkecamuk karena kisahnya dengan Nila. Mencoba melupakan, tapi itu tak semudah seperti Nila meninggalkan Raman.

Kini tinggallah Raman dan luka hati yang Nila berikan. Tanda tanya dan lara hati menyelimutinya. Terakhir Raman melihat Nila kamis lalu dibawa Karia melewati rumahnya menuju Kampung Beurandeh dengan mobil yang biasa dipakai Ampon Rani pergi ke luar kecamatan. Kala itu Nila sempat melihatnya yang sedang duduk sendiri di teras rumah, namun dirinya yang duduk di sebelah kiri Karia berpaling muka. Pernah terlintas dipikiran Raman untuk mencuri kesempatan bertemu dengan Nila dan mempertanyakan semuanya. Namun itulah terakhir Raman melihat Nila yang sudah memadu kasih dengan Karia.

Aceh Utara, 09 Juli 2015

Advertisements